MEDIAINDONESIA.ASIA, SUKABUMI - Program Makan Bergizi Gratis ( MBG ) yang seharusnya menjadi penambah nutrisi bagi siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Sukabumi justru memicu kekecewaan. Sejumlah orang tua murid mengeluhkan menu edisi Ramadhan yang dianggap jauh dari standar kelayakan.
Hariyanto, salah satu wali murid di wilayah Kecamatan Sukabumi, mengungkapkan rasa terkejutnya saat melihat menu yang dibawa pulang oleh anaknya yang duduk di bangku kelas 1 dan kelas 6 SD. Dia mendapati kotak makan tersebut hanya berisi tiga iris singkong dan tiga butir kurma.
Kekecewaan Hariyanto semakin memuncak saat dia mencicipi langsung makanan tersebut. Menurutnya, kualitas singkong yang diberikan sudah menurun dan tidak segar lagi.
“Saya sempat cicipi singkongnya, rasanya sudah agak asam dan teksturnya licin. Menurut saya, menu seperti ini belum bisa disebut bergizi,” ungkap Hariyanto, Rabu (25/2/2026).
Dia menyayangkan pemilihan singkong sebagai menu utama, mengingat singkong adalah bahan pangan yang sangat murah dan melimpah di wilayah tersebut. Baginya, ada standar kepantasan yang harus dijaga dalam pemberian makanan untuk anak-anak sekolah.
“Bukannya tidak bersyukur. Cuma yang agak pantas saja. Kalau singkong, di sini juga banyak,” tegasnya.
Keluhan ini kemudian viral di media sosial dan mendapat dukungan dari banyak wali murid lainnya yang meminta evaluasi menyeluruh terhadap pihak pengelola dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Penjelasan Pihak SPPG
Menanggapi tudingan tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Perbawati segera memberikan klarifikasi untuk meredam keresahan publik.
Kepala SPPG Perbawati, Muhammad Sona menjelaskan, kesan licin dan tekstur yang tidak biasa tersebut bukanlah tanda makanan basi, melainkan efek dari pengentalan vla susu.
Sona memaparkan bahwa menu tersebut adalah Singkong Thailand yang seharusnya disajikan dengan vla cair.
Namun, kendala teknis di dapur menyebabkan vla tersebut menjadi sangat kental sehingga menyerupai bubur sumsum dan mengubah persepsi visual serta rasa saat bercampur dengan singkong.
"Karena terlalu kental, orang tua siswa mengira itu bubur sumsum. Padahal sebenarnya itu vla. Makanya kami masukkan ke plastik klip," jelas Sona.
Minta Maaf
Pihak SPPG tidak menampik adanya kekurangan dalam aspek penyajian. Selain masalah tekstur vla, Sona juga mengakui adanya keterlambatan distribusi telur akibat kendala dari pihak pemasok.
Pasca viralnya keluhan tersebut, unsur Muspika yang terdiri dari pihak kepolisian, puskesmas, hingga dinas pendidikan langsung melakukan pengecekan.
Hasil koordinasi memastikan bahwa tidak ada masalah pada kandungan gizi makanan, dan persoalan murni terletak pada teknis pengemasan.
“Pemorsian yang dinilai kurang itu menjadi evaluasi kami. Kami mohon maaf atas kesalahan dari dapur kami. Ke depan, kami akan melakukan perbaikan agar penyajian lebih baik lagi," jelasnya.
Liputan : Suryana
Editor : Lisa
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini


