MEDIAINDONESIA.ASIA, JAKARTA - Ramai keluhan peserta manajer Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih di beberapa daerah. Seorang peserta asal Medan, Muhammad Ibrahim (28) mengaku dirugikan akibat gangguan sistem Computer Assisted Test (CAT) saat tes berlangsung.
Ibrahim mengikuti ujian pada Senin (4/5) sesi kedua di titik lokasi Graha Bhinekka Perkasa Jaya (Medan 1) di bawah koordinasi BKN Regional VI Medan. Dengan semangat nasionalisme, Ibrahim percaya dapat berkontribusi dalam program unggulan Presiden Prabowo tersebut.
"Saya sebenarnya sangat berharap bisa berkontribusi langsung dalam program prioritas Presiden Prabowo," ujar Ibrahim saat diwawancarai, Rabu (6/5/2026).
Namun faktanya, semangatnya harus terbentur berbagai kendala teknis selama ujian. Salah satu masalah paling krusial adalah jawaban yang dipilih berubah sendiri pada sistem CAT.
"Jawaban yang saya pilih dan sudah disimpan bisa berubah sendiri! Misalnya saya pilih A, setelah dicek kembali berubah jadi B, C, D, atau E. Jadi jawaban yang terinput bukan pilihan saya," UJAR dia.
Kejadian tersebut tidak hanya dirasakannya sendiri. Ia bahkan sempat membuktikan langsung di hadapan pengawas ujian dengan mengangkat tangan saat tes berlangsung.
"Saya tunjukkan langsung ke pengawas, dan mereka melihat sendiri bahwa jawaban berubah. Untuk membuktikan, saya sengaja pilih semua jawaban ‘B’, dan benar (ketika dibuktikan) sekitar 60 persen berubah-ubah," ungkap Ibrahim.
Sistem Delay
Selain itu, dia juga menyoroti adanya keterlambatan sistem saat menyimpan jawaban. Kondisi tersebut membuat waktu pengerjaan banyak terbuang, sementara durasi ujian tetap berjalan tanpa waktu tambahan.
"Ketika jawaban dipilih, tidak langsung tersimpan karena delay. Sementara waktu terus berjalan. Ini sangat merugikan peserta," tegas Ibrahim.
Dalam ujian tersebut, peserta diharuskan menjawab total 248 soal yang terbagi dalam beberapa kategori, mulai dari tes kognitif hingga manajemen koperasi, dalam waktu 62 menit. Ibrahim menilai beban soal yang besar dengan waktu terbatas semakin memperparah dampak gangguan teknis.
Akibat berbagai kendala tersebut, dia mengaku tidak dapat menyelesaikan ujian secara maksimal. "Saya sudah melaporkan kejadian ini ke panitia dan dibuatkan berita acara. Tapi hasilnya tetap tidak berubah," katanya.
Ibrahim mengaku telah berupaya menyampaikan keluhan melalui berbagai saluran, termasuk kolom komentar di akun resmi Kementerian Koperasi. Meski demikian, ia memilih pasrah atas hasil yang diterimanya.
“Saya sudah berusaha menyuarakan, tapi sekarang hanya bisa berharap ada evaluasi,” ujarnya.
Harap Panitia Evaluasi CAT
Ia juga menyoroti keluhan serupa masih banyak bermunculan di media sosial dari peserta lain di berbagai daerah. Hal ini menunjukkan adanya masalah sistemik dalam pelaksanaan seleksi.
"Saya berharap panitia benar-benar mengevaluasi sistem yang digunakan, karena kejadian ini masih terus terjadi dan merugikan peserta lain," harap Ibrahim.
Lebih lanjut, dia mengusulkan agar dilakukan tes ulang, mengingat sistem yang bermasalah tidak dapat dijadikan dasar penilaian kemampuan peserta.
"Harapan saya ada tes ulang, karena dari awal sistem sudah error dan tidak layak dijadikan alat ukur kemampuan," tutup Ibrahim.
Oleh : Mirna
Editor : Lisa
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini





